
Ada kalanya saya mencatat mimpi saya—sesegera mungkin, begitu terbangun, ketika mimpi itu masih teringat, ketika saya masih sangat mengantuk. Catatan mimpi itu sudah tentu sudah serba-sedikit mengandung tafsir, karena saya menghubungkannya dengan apa-apa yang pernah teralami. Berikut ini mimpi saya dari 10 tahun lalu, awal November, menjelang subuh, di sebuah kota di Midwest:
Saya berdiri di sebuah pelataran luas, barangkali seluas dunia: ternyata sebuah kompleks pekuburan. Hamparan nisan berderet rapi sampai nun ke cakrawala. Langit dan bumi berwarna pucat, mungkin juga tak berwarna. (Barangkali saya selalu gagal mengingat warna dalam mimpi.) Saya melihat sejumlah makam baru saja dibongkar; di depan hidung saya, makam saya sendiri; peti-peti mati telah dikeluarkan dari liang, dan diletakkan di samping—atau di atas—batu-batu nisan. Ternyata liang-liang makam itu bersusun-susun, sampai jauh ke bawah, seperti tak berdasar; di bawah setiap makam hanya ruang hampa. Batu nisan saya berimpitan dengan dengan batu nisan berbentuk tiang salib dari batu granit: di bawah makam saya terdapat makam seorang Katolik, saya yakin ia seorang Paus oleh sebab tampilannya.
Pemandangan tak terlalu menakutkan: tak seperti lukisan-lukisan Bosch atau Grünewald. Malah agak cantik, seperti lukisan-lukisan Turner, Wyeth atau Hopper—kosong, tapi membetahkan. Hanya saya, diri saya, dalam mimpi itu, gemetar sungguh: saya harus mengembalikan peti mati saya ke dalam liang dan mengurug makam kembali. Saya turunkan peti itu ke liang, tapi ia seperti menolak: ia mengambang saja—tidak jatuh ke dasar, tidak juga menepi ke arah batu nisan. Rupa-rupanya saya enggan menutupi kuburan si Katolik yang ada di bawah kuburan saya. Atau si Paus itu menolak peti mati saya. (Saya tak ingat dengan baik urutan kejadian dalam mimpi.) Ia bangkit, seperti tanpa wajah, tapi pastilah jubah dan topi kebesarannya membuat ia seperti Paus Innocentius X dalam lukisan Velazquez. (Saya tak ingat apakah si Paus bicara kepada saya—yang berdiri hidup—atau kepada mayat saya.) Saya kemudian tahu—entah dari mana, mungkin ada bisikan dari langit—bahwa saya harus menghancurkan, atau mencairkan, mayat saya, agar peti mati saya tak terlalu berat, dan bisa masuk ke liangnya kembali. Namun sebentar kemudian lewatlah sepasang laki-perempuan, yang tahu akan penderitaan saya. Segera si perempuan menghancurkan mayat saya, menggerusnya hingga jadi gumpalan kental, dan merapikannya ke dalam peti. Pada saat ini si saya—yang melihat semua kejadian dalam mimpi—menjadi lega dan sedikit bahagia dan terbangun ke alam sadar.



